Tuesday, November 14, 2006

cuma sampe jam 8 (kuliah LDI)

Di sore hari minggu, dengan axioo di pangkuanku

“KITA MEMANG BEDA”
What makes this fuckin world tremendous is diferrence…

Kiranya ungkapan diatas cukup menggambarkan bahwa dunia yang menyebalkan ini menjadi “tremendous” karena adanya perbedaan. Bayangkan jika beda tiada. Masihkah kita “enjoy” berjalan di muka bumi ini?

Apa sih yang ga’ beda? Semua beda. Pertanyaan yag lebih layak adalah bagaimana caranya agar kita menyadari bahwa perbedaan itulah yang membuat dunia ini menjadi luar biasa.

Beda bukan eksklusif. Beda bukan juga arogan.

“Why are we so bothered?!”

Beda itu wajar. Sewajar matahari yang terbit sebelah timur dan tenggelam sebelah barat. Lalu kenapa mausia ribut dengan perbedaan? Seolah-olah itu sesuatu yang luar biasa. Sedangkan kenyataannya, beda itu “dalam” biasa.

Jangan takut menjadi beda ataupun dianggap beda. Jangan takut juga akan perbedaan. Jadilah beda dengan merelakan orang lain berbeda. Jangan pernah kecewa terhadap penolakan, penyangkalan bahkan penghujatan. Itulah produk prebedaan

Ditulis: 22 mei 2006, 6.58am
Diketik: 12 november 2006, 3.33pm


Masih sore, dan pada hari minggu yang samaJ

“Bersalah, Disalahkan, dan Menyalahkan”

Pertanyaan mudah seperti: Siapa yang tidak pernah salah?, sering sukar untuk “disadari” jawabannya. Artinya orang yang berbuat salah seolah-olah makhluk anehdul diatas yang pantas dipelototi. Padahal tidak ada yang “salah” dengan “berbuat salah”. WAJAR! MANUSIAWI!
Semua manusia pernah melakukan kesalahan. Karena itu ada toleransi. Tidak ada yang mutlak kecuali kesalahan itu sendiri.

Cukup obrolan ngalor-ngidul diatas.

Kadang-kadang menjadi bersalah jauh lebih menyakitkan daripada menjadi korban kesalahan itu. Bersalah berarti tebebani. Beban karena (pastinya) telah melakukan kesalahan. Beban karena telah menyakiti orang lain. Yang kedua ini tak jarang jauh lebih mendalam. Mungkin itulah yang disebut rasa bersalah.
Jadi, jangan pernah marah pada orang bersalah. Siapa tahu merekalah yang justru paling menderita. Lebih menderita daripada anda.

Bagaimana dengan “disalahkan”? Nah, ini justru lebih sakit lagi. Siapa yang mau jadi kambing hitam? (Entah darimana istilah ini diambil dan dipakai. Sampai sekarang saya belum tahu) Jawabannya, tidak ada yang mau. JELAS!
Bukan kita yang melakukan, kok kita yang kena. Kira-kira begitu suara hati kita.

Namun, bersalah dan disalahkan belum seberapa sakit. Masih ada yang lebih sakit. Hingga kita perlu kasihan kepada orang-orang golongan ini. Golongan yang “menyalahkan”. Mereka ini hanya mampu melemparkan kesalhan kepada orang lain. Mereka ini takut tapi ingin terlihat baik. Menempati posisi yang paling rendah dalam levelisasiJ

Ditulis: 30 mei 2006, 3.50pm
Diketik: 12 nov 06 juga, tapi jam 3.49pm


Dah cape nih, ntar mekka sambung lagi ya. Kayanya mekka bakalan nulis sesuatu yang beda, tunggu aja. Ga lama ko…
Next editions: Nama Punggung, Bank Robbery, I Don’t Mind, Wanita Bola atau Bola Wanita?, Say NO to Affair, NO Senior Slump!!!, Me n Friends, Project Leader, Future-In-Law,……..buanyakkkkk ya…;->

Dah dulu ya, axioo-nya juga dah panas banget nih. Kelamaan dipakeJBaterenya juga tinggal separo.

No comments: